OASEKSPLORASI 2017 | DAY 3 – FOTO!

Pagi hari dimulai dengan sarapan ketoprak yang membuat mataku kedap-kedip terus-menerus. Sepertinya badanku masih pegal-pegal dan kurang fit untuk  dibawa jalan-jalan karena kegiatan full kemarin, tapi mau tak mau aku harus bergerak mencari informasi untuk menyelesaikan outputku nanti.

Ceca dan Fattah sudah berangkat mengeksplor, sedangkan aku masih di rumah menulis logbook kegiatan kemarin yang lupa kutulis. Kudengar, Ceca ikut berlayar bersama Pak Syarifudin di pagi-pagi buta tadi, sedangkan Fattah mengikuti Ceca sampai ke dermaga untuk bertanya-tanya sedikit tentang transportasi dengan Pak Syarifudin.

Pukul 06.10 aku sudah menyelesaikan tulisanku dan siap eksplorasi keluar, namun mata dan badan berkata lain, masih berat dan pegel-pegel. Kuputuskan untuk tidur 10 sampai 15 menit, dan zzzzzzzz…

zzzz…

‘ah iya, lima menit aja deh, takut kebablasan,’ pikirku. Aku pun melihat jam tangan dan tanpa sadar sudah jam 07.00. Ok sip,

GAK BERASA BANGET TIDURNYA.

Sebelumnya: OASEKSPLORASI 2017 | DAY 2 – BAWAANNYA NGANTUK MULU


KEPENTOK

Setelah kejadian keblablasan aku langsung pamit dan capcus berangkat ke lokasi yang sudah kutandai 2 hari yang lalu. Sendirian tidak ada teman ketika mengeksplor berasa seperti anak hilang, beruntung banget aku sudah hafal lokasi yang dituju, kalau tidak mungkin perlu mencari lagi X(

Lokasi pertama yang kutuju adalah sebuah proyek bangunan besar. Dari hasil pengamatan, bangunan ini adalah sebuah sekolah yang sedang direhabilitas dan dibantu oleh pemerintah, namun ketika kuwawancarai petugas di sana jawabannya berbeda, proyek ini adalah renovasi karena dulunya sebuah sekolah yang sudah tua lalu dihancurkan.

Karena datang terlalu Pagi dan para petugas belum banyak yang datang, aku pergi dari lokasi dan akan kembali lagi di Siang hari, aku merasa informasi yang kudapat kurang serek dan solid.

WhatsApp Image 2017-11-07 at 21.56.52-2
Proyek sudah berjalan sekitar 2 bulan yang lalu (Agustus). © Ceca

Sambil memikirkan output dan ide-ide baru, aku berjalan menuju dermaga dan melewati jembatan kayu kecil itu lagi. Tapi sebelum sampai di jembatan, aku melewati petugas sampah dan motor sampahnya yang besar dan pemulung yang sedang memindahkan dan memilih sampah. Karena penasaran dengan banyaknya sampah di sini walaupun sudah diceritakan Bu Saroh (Oh ya, Bu Saroh adalah salah satu panitia yang mengurus sampah di Pulau Harapan), aku iseng bertanya kepada mereka.

“Kamu mau ikut gak bareng kami ke pabrik sampah?”

Wah, dari pada gabut menunggu sampai Siang hari, lebih baik aku mengiyakan ajakan Pak Imam dan Pak Ompong. Kukira aku bakalan jalan kaki mengikuti mereka, ternyata aku naik ke motor sampahnya. Kalian tahu? Aku tak menyesal menaikinya karena ini benar-benar pengalaman yang sulit didapatkan, aku menaiki motor sampah dibagian belakang sambil berdiri seperti tukang kenek 😀 (Agak sulit menjelaskannya gimana :/)

PENYERAHAN-BANTUAN-HIBAH-KENDARAAN-BERMOTOR-2
Kira-kira seperti inilah, aku yang berada di belakang. © Jabarprov.go.id

“aduhotongkusakitbangetinigilaahkampretaduhsakitbangetkepentok,manajalanannyasempitbanget.masihjauhgakyak-AHHHHHHH,” Sial menimpaku ketika motor sampah yang kunaiki bannya agak kempes, membuat goyang kesana-kemari dan gagang pintu tempat sampahnya menyundul pinggangku, parahnya lagi terkadang tepat sasaran ke otong dan membuatku tahan nafas.

Motor pun berhenti di pabrik dan penderitaan pun akhirnya berhenti juga. Pabrik ini ternyata sudah pernah kulewati saat keliling Pulau Harapan pada hari pertama.

Kebetulan aku bertemu dengan Syifa yang sedang wawancara dengan salah satu petugas di pabriknya. Niatnya aku ingin menyapa, tapi kulihat kamera yang dia pakai sedang menyala dan sepertinya memang sedang fokus merekam kegiatan si petugas. Baru juga kukira sibuk, ternyata dia duluan yang nyapa “Hai~”, padahal si petugas lagi asik ngomong -_-“

Aku diperkenalkan oleh Pak Imam sebuah alat pembakar sampah namanya Elbow. Elbow dapat membakar sampah apa saja kecuali logam dan beling. Hasil dari sampah yang dibakar Elbow salah satunya adalah pupuk. Jujur, aku sendiri kurang mengerti gimana jadi pupuk tapi Pak Imam nunjukin hasilnya di samping elbow, terdapat tanaman yang tumbuh dan pupuk hasil yang dibakar terdapat di bawahnya.

Terdapat 2 Elbow di Pulau Harapan, Elbow di pulau ini adalah satu-satunya yang bertahan dan belum sama sekali rusak dibanding pulau lain seperti Kelapa dan Pramuka. “Biasanya elbow mereka rusak karena tidak diurus kebersihannya hingga membuat mesin terhambat, makanya elbow di sini aman,” Ujar Pak Imam dengan bangga.

“Oh iya, kamu mau dibakar?”

kay 2
Elbow, alat pembakar sampah di Pulau. © Kay

NYASAR KE OUTPUT LAIN

Sehabis dari pabrik, aku bertemu dengan Yudhis di tengah jalan. “Jak, lu abis ini mau ke mana?” responku hanya mengangkat bahu, Yudhis pun senang dengan jawabanku karena sepertinya dia juga tergabutkan.

Di Sawung dekat dermaga kami bertemu dengan Adiva dan Katya yang sedang menulis hasil wawancara. Aku pun menulis logbook agar dikira rajin, sedangkan Yudhis masih gabut dan asik ngobrol mengganggu konsentrasi kami.

Jam tanganku sudah menunjukan pukul 10.00, aku bergegas berangkat ke tempat pembangunan proyek tadi. Aku lari-larian menuju lokasi agar pengawas di proyek itu masih ada, karena kata Pak Yanto, pekerja yang kuwawancara tadi Pagi, semua informasi dia yang tahu.

“Baut mana baut?!”

Teriak salah satu petugas ketika aku mewawancarai Pak Riko, pengawas proyek ini. Untungnya wawancaraku sudah selesai dan aku dikunjungi Yudhis dan Kaysan untuk keliling pulau bersama, Pak Riko sibuk teleponan dengan orang yang di Jakarta sana untuk masalah baut yang habis.

Ketika berkeliling di sisi pulau, aku bertemu 3 orang yang sedang membuat kapal kecil. Tertarik, aku berhenti dan bertanya tentang proses pembuatannya, sementara Yudhis dan Kaysan menunggu di samping sambil menulis hasil wawancara.

“Wuis, wawancara tentang kapal tadi bisa gua jadiin output nih, lumayan lengkap,” ujarku sambil merapihkan hasil wawancara. Selesai menulis, aku memisahkan diri dari Kaysan dan Yudhis untuk makan siang di rumah.

KUE BASI

Z: “Enaknya diapain yak ni kue?”
Z: “Oh, kasih ikan aja kali biar gak mubazir?”

K: “Kasih ke anak-anak di sawung aja kuy, kita membantu mereka biar lancar bab”
Z: “Oh! Ntap, berarti pas kita kasih kita menjauh dulu, baru teriak kasih tau mereka kalau ini udah basi”
K: “Oh iya, pasti mereka kan tertarik, kuy”

Sip. Jadi ceritanya kue yang sedang kita bahas ini adalah kue yang harusnya diberikan kepada keluarga inangnya Kaysan. Kaysan lupa memberikannya dan kue ini sudah expired 1 hari. So, kalian bisa baca lagi ide cemerlang kami di atas 😉

“LHO BASI????!!! AHHHHH! PWUH PWUH PWUH! WEK!”, “Eh, tapi enak kok,” seperti itulah reaksi mereka sehabis memakan kue. Kue talas yang dimakan sudah habis setengah, padahal sudah expired 1 hari XD Terserah pada merekalah ingin bilang ini basi atau bagaimana, yang jelas kami tidak mau makan :p

Setelah kami kasih tahu kue ini basi, kami berikan setengah kue ini ke ikan-ikan di dekat dermaga. Karena takut tercyduq petugas yang mungkin lewat dan iseng negur, aku memberikannya kecil-kecil aja biar cepet habis dimakan ikannya. Ketika kulirik Kaysan, justru ni anak malah menurutku membuat petaka, memberikan kuenya gede-gede banget, ya sudah kutinggalin aja biar gak ikut-ikutan dituduh, what a best friend 😀

Sekitar pukul 15.00 aku jalan-jalan bersama Kaysan mengelilingi pulau lagi. Aku kembali bertemu Pak Imam dan Pak Ompong di tempat yang sama, pabrik sampah. Daripada menggangu mereka yang bekerja, aku melihat-lihat saja dan tidak mau bertanya-tanya :p

IMG-20171106-WA0050
Sepasang korban sehabis makan kue basi. ©

DERITA DUNIA & FOTO!

Z: Oh gitu…
Z: Oh ya bu, bangunan ini sudah berapa lama?
RDM: OHH! Dulu saya gak dapet bantuan dari pemerintah dek pas ada bencana, ini saya di-
Anak: BU! Jangan bohong, itu asbes dan lain-lain dibantu sama pemerintah,
RDM: Oh iya, nah itu dek, kita dibantu tapi cuman dapet 1 juta, kalau yang lain 7-8 juta,
Z: ohhh gitu ya bu, ibu udah berapa lama tinggal di bangunan ini?
RDM: Saya udah tinggal di sini bareng anak saya dulu, oh ya dek, anak saya dulu ganteng banget dek, sekarang udah jadi abri di TNI sana, kalau adek ketemu anak saya…

Me: …
Also me: WATAFAAAAAAAQ

Sekitar 30 menit mungkin aku mengalami derita lain dunia dan akhirnya lolos juga setelah topiknya aku belok sana-sini agar bisa pamit pulang ==”

Setelah melakukan wawancara dengan rumah di Pulau Harapan yang katanya tertua dan pamit ke Bu Rodemah (atau biasa dipanggil gaul dengan nama Bu RDM XD), aku kembali menuju dermaga untuk istirahat dan bermain-main di sana menikmati hari terakhir di Pulau Harapan.

Di sana kami menikmati suasana ramainya pulau dan jajanan abang-abang Cilung, Laker, dan sebagainya, aku sendiri membeli Laker dan menghabiskan uang Rp 14 ribu.

Menjelang Magrib, beberapa dari kami sudah ada yang pulang. Entah gimana ceritanya aku bengong dan seperti ada sesuatu yang menjanggal di kegiatan ini. Mencoba berpikir keras dan TADAAA, aku mengingat OASEksplorasi tahun lalu yang dilakukan di hari terakhir, FOTO ALA-ALA!

Aku pun mengingatkan ke anak-anak lain untuk jangan pulang sebelum foto-foto OASEksplorasi. MARI KITA BUAT YANG PULANG DULUAN NANGIS DARAH KARENA GAK IKUT FOTO! MUAHAHAHA!

IMG-20171116-WA0012
Ketika kubandingkan dengan foto OASEksplorasi tahun lalu, serasa ingin menangis entah kenapa T_T THE MEMORIES! © Ceca

…:::Bersambung(?):::…

IMG_6426-2
Sunrise – OASEksplorasi 2016. © Yudhis
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s