OASEKSPLORASI 2017 | DAY 1 (part 2) – BANYAK UGHA SAMPAHNYA

Setelah melakukan sesi foto-foto aib, kami semua berkumpul berbaris di depan kantornya untuk pembagian kelompok dan perkenalan keluarga inang. Kali ini aku memimpin pasukan untuk disiapkan baris-berbarisnya 😀

“Ayok! Cepet dong barisnya, siAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAP! -AAAAAAAAAH! APA INI?! SEMOT MERAH!” 

“Digigit semut merah ya? Aduh! aku suja digigit”

“Aduh, aw! Aku juga”

“AAAAHHH SAKIT”

“AAAAAAHHH”

Yak, Sekitar 3 menit dihabiskan untuk berteriak ria.

Sebelumnya: OASEKSPLORASI 2017 | DAY 1 (PART 1) – NO FOTO AIB NO EKSPLORASI NAMANYA


Kak Niar selaku bagian dari TN Kepulauan Seribu memperkenalkan kami beberapa hal tentang Pulau Harapan. Di samping kami juga terdapat para orang tua yang siap membawa pulang kami dan mengasuh kami hingga dewasa nanti 😀

Anak-anak mulai dipanggil satu-satu untuk bersalaman ke orang tua masing-masing. Aku bersama Ceca dan Fattah akan tinggal bersama Pak Syarifudin, tapi karena sedang berlayar mencari ikan maka yang datang untuk menjemput kami adalah istrinya, Bu Saroh.

Lokasi rumah Bu Saroh lumayan jauh dari Kantor TN tadi, ditambah aku membawa bawaan dari mentor yang berisi iqra/qur’an menambah perjalanan makin terasa lama. Kukira rumahku akan jadi yang paling jauh lagi seperti OASEksplorasi tahun lalu, untungnya ada 2 kelompok yang arahnya sama dengan arah rumah keluarga inangku, ada kelompok Ratri, Tata, dan Syifa lalu ada Abel, Anja, dan Katya. Fyuhh..

Di perjalanan aku sempat ngobrol dengan Bu Saroh seperti bertanya ibu hari ini sedang ada jadwal apa dan sebagainya. Beberapa pertanyaan terjawab seperti kesehariannya Bu Saroh dan terbukti ketika sampai di rumahnya. Terlihat terdapat dagangan di depan rumahnya Bu Saroh, terdapat saset-saset Marimas, JasJus, atau sejenisnya yang bertengger di gantungan tali. Aku juga berpikir sepertinya Bu Saroh tidak punya waktu banyak untuk keluar karena dia berdagang, dan benar ternyata Bu Saroh adalah sesosok Ibu Rumah Tangga juga 😉

Takut lupa, aku mengingatkan yang lain untuk memberikan souvenir yang dibawa tadi ke Bu Saroh. Jujur saja pas aku memberi souvenirnya agak kagok atau lebih tepatnya awkward karena Ceca yang memfoto diriku dan Bu Saroh dengan gaya bungkuk dan flashnya yang menyala,

*cekrek-cekrek

… berasa seperti sedang diliput.

Kak Sari 1
Mendengerkan Kak Niar memperkenalkan Pulau Harapan dan ditemani orang tua asuh. © Kak Sari

ASTAGA DRAGON, SAMPAHNYA NYAK UGHA

Pukul 16.55 aku, Fattah, dan Ceca pamit ke Bu Saroh untuk mengeksplor Pulau Harapan, dijawab oleh Bu Saroh dengan ramah dan nada yang bahagia, ahhhhh, baik sekali Bu Saroh. Aku yakin nanti malam pasti akan seru jika gaya bicaranya seperti ini 😀

Ceca memimpin perjalanan karena dia sudah survei bersama Yudhis, Kaysan, dan Adinda. Belum lama jalan sehabis pamit, kebetulan kami bertemu rumah yang ditinggali kelompoknya Yla dan ada Ylanya juga di depan rumah, kulihat Ceca dan Fattah langsung ngibrit nyamperin. Awalnya sih aku pengen ninggalin mereka karena pengen buru-buru cari titik lokasi yang pengen dieksplor untuk besok, tapi apalah dayaku yang belum hafal lokasinya dan lagi pula aku inget peraturan eksplorasi, tak ada pilihan lain jadi aku nungguin mereka 😐

Ketika semuanya sudah siap, tanpa menunggu lama lagi kita langsung capcus berangkat. Ceca ternyata tidak begitu hafal juga dengan lokasinya, salah satu alasan dia nungguin kelompok Yla mungkin karena adanya Adinda agar Adinda juga bantu membantu memimpin perjalanan, baiklah.

Diawali dengan niat mencari titik-titik yang ingin dieksplor untuk besok, berubah menjadi jalan-jalan hingga nyasar dan sekarang bertemu dengan yang namanya lautan sampah. Sudah jelas-jelas ada plang tulisan Dilarang membuang sampah di sini sedangkan fakta menunjukan sebaliknya, ada maksud tertentu, kah? Kan tidak mungkin sampah yang mungkin banyaknya seperempat pulau ini dibiarkan begitu saja, menarik.

Masih di daerah yang penuh akan sampah, kami melewati jembatan kayu yang panjangnya sekitar 3-4 meter. Hanya bermodalkan kayu bambu, jembatan ini sangatlah kecil, hanya cukup 1 orang yang lewat (ya iyalah) dan mengharuskan kita jalan dengan posisi miring agar lancar, itu pun kayunya goyang-goyang. Bahaya, namun jembatan ini kami jadikan sebagai jembatan favorit karena menantang dan jadi spot untuk foto-foto. Kami kan anaknya eksplor, SGM eksplor satu dua tiga 😀

This slideshow requires JavaScript.

“Eh, kalau gak salah di deket pelabuhan ada taman”

Langsung saja kami berangkat ke taman. Karena aku melihat seperti ada ayunan, prosotan, dan lain lain, aku jalan paling depan agar bisa mendapatkan permainan yang paling asik di sana.

ZONK!

Ternyata di sana tidak ada sama sekali permainan yang cocok untuk kami, bahkan rata-rata sudah pada rusak dan hanya tersisa ayunan. Awalnya pada berebutan untuk mendapatkan ayunannya, lama-lama pada kalem, lalu ribut lagi setelah si Adinda sudah turun dari ayunannya. Saking sibuknya ribut, pada gak sadar ayunan yang dinaiki Adinda sudah kosong, aku pun langsung menyambar dan mengayunkan secepat mungkin agar anak-anak yang lain tidak dapat menghentikanku, MUAHAHAHAHA.

NGANTUK TAPI MELEK, WAH GIMANA TUH..

Matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya. Di antara kelompok lain, kelompok akulah yang memutuskan untuk pulang duluan karena sudah dilanda haus dan aku sudah berjanji kepada Bu Saroh untuk pulang pada pukul 17.30.

Di tengah perjalanan, aku tergoda dengan Ceca dan Fattah yang sedang membeli Aq*di sebuah warung arah jalur pulang kami. DAN DI SINILAH KAMPRED TYDAC M3NDYDYC MOM3NTNYA, aku baru ingat tentang peraturan Zerowaste dan tidak boleh asal jajan di pulau, mengingatnya saja sudah lemas dan rasanya ingin memutar waktu kebelakang, tidak tergoda dan saling mengingatkan justru lebih baik.

Sesampainya di rumah aku langsung menjadi orang yang pertama mandi dan beresin logbook. Ketika air membasuh badanku, tak sengaja air-air nyempil masuk ke dalam mulutku dan rasanya ASIN! Puyau! Jari-jari di tanganku juga menjadi keriput gara-gara air mandi ini. Hal ini disebabkan karena kemarau yang sedang melanda Pulau Harapan, ujar Bu Saroh ketika kutanya. Wezzzz, langsung saja kucatat di buku sambil menulis logbook 😀

P. S: Kamu tahu gak, orang kalau lagi mau mancing maakaaanannya untuk siap-siap itu apa?
Me: Hmm… Kalau yang aku tahu sih cacing, atau enggak ikan itu sendiri dijadiin tumbal.
P. S: Salah..
Me: Lho, terus apa??
P. S: Nasi Uduk!
Me: …
Also me: *Ini beneran becanda atau gimana?
P. S, C, F, dan seluruh keluarga: MUAHAHAHAHA!
Me: Hehehe… he- MUAHAHAHAHAHA!

Intinya, orang yang lagi mau mancing pagi-pagi makanannya adalah nasi uduk, kalau tidak nelayan bisa mati kelaparan. Yak, ternyata ini adalah satu jokes para nelayan. Sekian.

Terlihat Suasana sudah sangat cair. Pak Syarifudin memiliki tampang yang menurutku lumayan seram, terlihat dari kumisnya dan badannya yang besar. Namun ternyata sifatnya Pak Syarifudin berbeda sekali dengan wajahnya, lucu, asik dan kadang suka ngawur, di luar dari ekspektasiku, dan aku suka yang situasi yang di luar.

Kami sudah makan malam bersama-sama pakai Iauk ikan Somo yang baru didapat oleh Pak Syarifudin tadi Sore. Sepertinya aku dan teman-teman bakalan makan selalu pakai ikan dari hasil tangkapan Pak Syarifudin. Rasanya seger banget dan gokil! Kematangan di ikan ini sangatlah pas dan muahhh, maknyus lah. Oh ya, kalian tahu bumbu rahasianya? Hmmm… bumbu rahasianya hanyalah garam dengan takaran yang acak adul alias tidak jelas perkiraannya berapa. Selama ikannya enak dimakan ya dimakan aja, ujar Bu Saroh.

Yak, sedangkan saia kalau masak ikan perlu sana-sini dan hasil akhirnya entah kenapa berwarna hitam. Ok sip, makasih Bu Saroh.

Tak lama kemudian Kak Opal datang menyapa kami semua. Aku pun langsung gesit mengambil buku logbook dan jurnalku di kamar sebelum dicyduq Kak Opal. Terlihat di kamar masih ada Ceca yang sehabis makan langsung terkapar tidur di kasur dan belum mandi juga. Sebelum dicyduq Kak Opal, dengan setulus hati aku menepok pantat Ceca dengan keras untuk membangunkannya dan alhasil terjekutlah dia. What a best friend 😀

Aku dan Fattah mendengarkan apa yang diceritakan Pak Syarifudin. Kak Opal sendiri juga ikut menyimak sambil minum bandrek yang disediakan khusus untuk Kak Opal, nikmatnya D: Sedangkan Ceca ikut menyimak juga namun aku kurang yakin karena terkadang dia goyang-goyang gak jelas dan tiba-tiba kaget seperti sedang mabok, kurasa dia masih ngantuk, entahlah…

Sejujurnya aku sendiri sudah ngantuk, banget-banget-banget-banget. Tapi entah kenapa masih bisa melek dan sempat-sempatnya menulis penjelasannya Pak Syarifudin dengan rapih. Aku tidak terlalu ingat dengan apa yang Pak Syarifudin ucapkan, aku hanya asal tulis aja di buku dan iseng bertanya kalau penasaran karena saking ngantuknya. Untungnya aku ingat topik apa yang sedang dibahas seperti sedikit tentang arsiktektur bangunan di Pulau Harapan, keseharian nelayan, dan tentang ikan-ikan yang ia dapatkan sekarang.

Pukul 21 40 percakapan pun berakhir, sepertinya Kak Opal juga sudah mengantuk jadi langsung ijin pamit dan capcus berangkat menuju homestay mentor. Kami juga langsung capcus ke kamar dan Ceca ternyata tidak mau menjadi orang yang bau, akhirnya dia mandi di tengah malam begini. Oh iya, Pak Syarifudin memiliki kebiasaan di keluarga yaitu memasuki sendal atau sepatu ke dalam rumah, walaupun jarang ada maling namun sendal itu penting ujar Pak Syarifudin.

Sebelum tidur aku selalu mengingatkan ke kelompokku entah itu siapa saja untuk membereskan tasnya baru setelah itu tidur, tujuannya sendiri agar nyaman dan tidak ada beban pikiran ketika bangun tidur.

Z: Ahhh, besok gua tinggal coba eksekusi lokasi yang abis dieksplor tadi. Kalau lu gimana Ce?
C: Loh besok?

Z: Iya, mang napa?
F: Loh, yang gua tau besokkan ada kegiatan TN itu bukan?
Z: …
Z: … Oh iya.

…:::BERSAMBUNG:::…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s