OASEKSPLORASI 2017 | DAY 1 (part 1) – NO FOTO AIB NO EKSPLORASI NAMANYA

Akhirnya sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa setelah kejadian HP error dan dua kali dibatalin Grabcar. Sampai di kapal pukul 7 aku dan Dhifie disoraki oleh anak-anak lain, entah disorak karena telat atau bahagia karena aku sudah datang.

Fattah menggantikanku sebagai penanggung jawab kehadiran anak-anak eksplorer di saat aku belum datang, terima kasih Fattah 😀 Tanggung jawab kuambil alih lagi setelah kapal menunjukan tanda-tanda keberangkatan, alhamdulillah gak ada yang ketinggalan dan hilang.

Sebelum perjalanan dimulai, kurang serek rasanya kalau kami tidak melakukan foto bersama 😀 Saking semangatnya sampai kami lupa bahwa di kapal ini penumpangnya bukan kami doang dan akhirnya terhalanglah orang-orang yang ingin lewat karena kami sibuk foto bersama :p

Kapal mulai bergerak menjauhi pelabuhan Sunda Kelapa dan perjalanan pun dimulai.  PULAU HARAPAN, WE ARE COMING!

23131008_10155025924172876_3996068798211155467_n
© Kak Lini

 

Sebelumnya: OASEKSPLORASI 2017 | DAY 0 – OASEKSPLORASI IS BACK, BABY!


46 > 66

Bau cat yang masih tercium, rapih, dan air laut yang lumayan bersih adalah kesan pertamaku ketika memasuki Kapal Sabuk Nusantara 66 (Sanus 66) di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Tahun lalu aku melakukan perjalanan ke Pulau Pramuka menaiki kapal yang sama, bedanya hanya di 46 dan 66. Kapal Sabuk Nusantara 46 yang kunaiki tahun lalu memiliki beberapa perbedaan dengan Sanus 66 seperti memiliki banyak titik yang berkarat dan kasurnya yang lebih empuk dari Sanus 66. Oh ya, di Sunda Kelapa sendiri sekarang air lautnya sudah lumayan bersih (walaupun masih ada minyak-minyaknya sedikit) dibanding tahun lalu yang banyak akan sampah plastik sedang mengapung di tiap sisi kapal-kapal di Sunda Kelapa dan pelangi di mana-mana hasil dari minyak.

Perjalanan kuhabiskan dengan ngobrol santai di kasur bersama teman-teman, bercanda joget-joget gak jelas, dan ada juga yang seneng foto-foto di luar untuk mengambil gambar yang bagus atau pun cuman sekedar potret temen untuk oleh-oleh aib ketika pulang nanti, hingga aku dipanggil Kak Opal untuk ngobrolin output dan setelahnya aku mendapat beberapa ide dan masukan dari Kak Opal, terima kasih Kak Opal 😀

Tak terasa, pukul 09.30 kami sudah sampai di Pulau Untung Jawa. Masih dengan kegiatan yang sama, aku masih bercanda dan bergelud gak jelas di kapal dan tiba-tiba teringat sebuah tugas setelah melihat Husayn, Vyel, Aza, dan yang lain sedang melakukan wawancara terhadap penumpang kapal. Setelah kapal melaju meninggalkan pulau aku pun keluar untuk mencari penumpang yang sesuai dengan masukan Kak Opal, mencari narasumber lokal yang mungkin tahu tentang bangunan di pulau seperti apa. Aku pikir aku bisa curi start duluan, sayangnya gagal karena tidak ada penumpang dari pulau (lokal).

Aku bingung mencari narasumber, rata-rata yang ada di kapal sudah dibabat habis ditanya-tanyain sama yang lain. Bisa aja sih aku mencari narasumber yang sama dan aku tiba-tiba kepikiran dengan bapak-bapak yang suka sekali selfie ke sana ke mari di kapal, apakah sudah diwawancara? Eiiitttts, ternyata langsung ketemu lagi di atas sedang ngobrol sama Yudhis.

DSCF1446
Penampakan ala-ala pose jadul saat perjalanan. © Adiva Dregen

HAMPIR TERLIBAT KONFLIK

Sekitar hampir 1 jam aku asik ngobrol dengan Pak Ekel bersama Yudhis dan Adiva. Awalnya aku menunggu Yudhis selesai berbicara agar aku bisa ngobrol santai dengan Pak Ekel, ternyata Yudhis lagi wawancara juga, terlihat dari dia menulis hasil ucapannya Pak Ekel dan parahnya aku baru sadar ketika percakapan hampir berakhir. Untungnya, aku mendapat beberapa informasi dan kurasa aku lumayan banyak bertanya kepada Pak Ekel dan dua temannya, Pak Antonutas dan Pak Budi.

Pak Ekel sendiri sekarang sedang ke Pulau Pramuka untuk liburan 1 hari di sana bersama rombongan, 30 orang. Beliau akhir-akhir ini memang lagi senang liburan dan memang sudah biasa naik kapal ke mana-mana. Sudah banyak pulau yang dia kunjungi selama 20 tahun, di antaranya berlokasi di Surabaya, Manado, Sulawesi, dan Jakarta.

Oh ya, kebetulan Pak Ekel pernah naik kapal tujuan Jakarta-Maluku (atau sebaliknya) berangkat pada tahun 1999 dan aku teringat sebuah kejadian konflik pada tahun itu (pernah mendengar sekilas dari seseorang). Yang benar saja,  Pak Ekel pernah menaiki kapal tersebut dan dia bercerita bahwa kapal tersebut dipenuhi oleh darah, mayat dan bau amis yang menyelimuti keseluruhan kapal. Dari yang kudengar dari Pak Ekel, penumpang ketika di Maluku berbondong-bondong naik ke kapal untuk menuju ke Jakarta namun ketika di perjalanan beberapa dari mereka mulai rusuh dan terjadilah keributan di kapal tersebut.

Untungnya, Pak Ekel sendiri selamat dan masih bisa merintis setelah tahun itu hingga sekarang sudah bisa menghabiskan waktu untuk berlibur.

Entah kapan mulainya, Pak Ekel dan 2 temannya jusrtu sekarang bertanya-tanya tentang kami. Pertanyaan yang dilontarkan kurang lebih sama seperti keseharianku ketika pergi, ditanyai sekolah di mana, apa itu/penjelasan homeschooling, dan yang berbeda adalah sekarang sedang melakukan kegiatan apa. Kami menjawab semua pertanyaan itu dengan asik dan santai, mereka pun enjoy dengan penjelesan kita dan nampaknya mereka pun setuju dengan penjelasan kita tentang homeschooling 😀 Penasaran bagaimana jawabnya dan apa pertanyaannya? Sama dong, lupa juga… :p

Di sela-sela kita ngobrol, aku, Yudhis, dan Adiva diajak foto bersama dengan Pak Ekel menggunakan Handphone dan Tongsisnya (Tongkat Narsis) yang sudah dia bawa ke mana-mana sejak awal perjalanan. Oh iya, Pak Ekel diam-diam masuk ke dalam ruangan nahkoda atau kapten untuk berfoto-foto saat sebelum kapal berangkat di Sunda Kelapa dan ternyata sang nahkoda adalah teman dekatnya Pak Ekel, pantas saja diperbolehkan masuk. Nama teman dekatnya Pak Ekel adalah Kapten Honhon dan Kapten Agus, dan sekarang kedua kapten ini sedang membawa kapal ini 😀

“Adik-adiiik, kita sudah mau sampai Pulau Kelapa. Yuk yang belum sholat, sholat aja sekarang” ujar Kak Shanty

Wait what? Kita baru aja sampai di Pulau Pramuka pukul 12.00 dan sekarang pukul 13.00 sudah mau sampai? Cepet juga. Aku yang lagi ceritanya baru sarapan langsung cepat-cepat dan wudhu untuk sholat, aku gak mau telat ngangkat tas ke atas karena pasti bakal rame-rame ke atasnya dan tabrak-tabrakan.

Tapi ujung-ujungnya dibantu diangkatin sih tasnya sama Yudhis… terima kasih abang Yudhis 😀

Aku kembali mengabsen ulang satu-satu bersama Yla untuk memastikan tidak ada yang hilang dalam perjalanan 5 jam ini. Setelah absen kami keluar dari kapal dan langsung disuguhi sinar matahari yang panas nan silau, air laut yang sangat indah nan bening juga menemani kita saat keluar dari kapal. Aku melihat sekeliling sambil menunggu beberapa dari kami keluar dari kapal dan aku melihat banyak sekali Bulu Babi di tepian pelabuhan, gak kebayang kalau nyebur atau gak sengaja kecebur ditusuk-tusuknya kayak gimana >.<

“Haaaaaaaaaa! HAAAAA!” Teriakku ketika mengangkat 2 barang yang sangat berat, souvenir untuk keluarga inang dan iqra/qur’an. Karena gak kuat juga diterjang panas matahari, mental sok jagoanku kuikhlaskan tidak dikeluarkan dulu dan minta tolong ke Fattah dan Ceca sebagai teman kelompok yang baik 😀

Perjalanan menuju Pulau Harapan harus terpotong karena kita semua sudah lelah duluan. Sebenarnya sih aku belum terlalu lelah untuk berjalan namun Pak Aji menuntun kita ke suatu tempat seperti sekolah, namanya SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Tempat ini dijadikan tempat istirahat sejenak kami, saat masuk ke dalam kami sudah disediakan minuman Jus Buah Naga dan Jus Mangga atau Jeruk yang murni tanpa gula!

Namanya bertamu, kita tak mau lama-lama dan kurang dari 10 menit kami semua langsung capcus pergi melanjutkan perjalanan menuju Kantornya Taman Nasional Kepulauan Seribu (TN) yang ada di Pulau Harapan.

Di sinilah kita lelahnya dan di sinilah waktu yang kutunggu-tunggu karena sekarang kita bakalan makan siang! Bau sayur asem pun tercium dari jarak 4 meter, terlihat dari jauh mangkoknya yang besar penuh akan kuah dan nangka yang bertumpukan dengan potongan nangka lain, begitu juga dengan  ikan yang entah ikan apa itu namanya, bodo amatlah, mereka sangatlah menggodaku dan membuatku bergerak untuk mengeksekusinya, sayangnya perlu mengantre 😦

Beberapa sudah ada yang selesai dengan makan siangnya, aku sendiri juga sudah selesai dengan makan siangku. Sambil menunggu yang lain selesai makan, aku mencoba untuk tidur sebentar.

*cekrek

Mendengar sesuatu yang mencurigakan aku langsung buka mata dan mencoba mencyduq siapa yang potret. Ternyata mereka yang memegang kamera sudah mulai mengambil gambar sekeliling, bedanya sekarang mereka mengambil foto wajah aib, di mana muka kalian akan dijadikan sebuah ejekan ketika pulang kegiatan nanti.

Sedikit tentang foto aib di OASE,

Foto aib adalah hal yang wajib didapatkan oleh anak-anak yang memegang kamera ketika berkegiatan bersama-sama. Jika kegiatan sudah selesai foto wajib ditunjukan ke media sosial,  seperti Whatsapp group. Tidak peduli modelnya siapa, asalkan aib, bintang 5 akan diberikan kepada si pemotret.

kay
© Kay

 

…::: BERSAMBUNG :::…

Advertisements

One thought on “OASEKSPLORASI 2017 | DAY 1 (part 1) – NO FOTO AIB NO EKSPLORASI NAMANYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s